Kesan Pertama di Negeri para Mullah

Bagian dari Catatan Perjalan “Menapaki Negeri-Negeri Kaukasus” hari ke #1

“Welcome to Iran!” ucap seorang petugas pria dibalik meja konter visa dengan ramah sambil mengulurkan passporku yang sekarang telah bertambah satu cap lagi. Dengan ini aku resmi menapakkan kakiku di negeri para Mullah, negeri dengan sejarah yang sangat tua, setua peradaban manusia itu sendiri. Negeri yang berulang kali berhasil menjadi penakluk, menjadi tuan atas tanah-tanah yang jauh, dari Mesopotamia, Anatolia bahkan hingga ke Yunani, tetapi pada akhirnya ditaklukan juga oleh bangsa lain, berpindah tangan dan keyakinan, dari Paganisme, Zoroaster hingga Islam.

Bermula dari migrasi bangsa Elam yang nomaden dari padang rumput di Asia Tengah, dilanjutkan dengan berdirinya Kekaisaran Achaemenid dengan Cyrus Agungnya yang termasyur karena keadilan dan kebijaksanaannya, tonggak pertama mereka dikenal dunia kuno sebagai bangsa Persia. Kemudian giliran bangsa Yunani dibawah Alexander Agung dari Makedonia berhasil menaklukan seluruh Persia, membawa pengaruh kebudayaan Hellenisme jauh dari Eropa hingga ke jantung Asia. Berturut-turut kemudian bangsa Romawi, Sasanid hingga terakhir bangsa Arab bergiliran menjadi tuan di tanah Persia, membawa agama dan budaya mereka masing-masing.

Rekonstruksi tiga dimensi dari Zigurat, pusat pemujaan bangsa Elam, Babilonia dan Persia
Bracelet emas peninggalan kebudayaan bangsa Elam, koleksi Museum Nasional Iran

Dinasi Safavid dan Syah Iran adalah monarki terakhir sebelum akhirnya bangsa ini tenggelam dalam Revolusi Islamnya Ayatollah Khomeini yang akhirnya berhasil menjadikan negeri ini sebagai sebuah negara berlandaskan agama yang diatur secara ketat oleh pemimpin spiritual. Iran adalah produk dari ribuan tahun percampuran dan penyatuan bangsa dari seluruh penjuru dunia kuno yang pada akhirnya membuahkan sebuah kebudayaan yang sangat unik dengan keberagaman etnik yang kaya.

***

“40 ribu toman” ucapku berkeras kepada supir taksi yang sedari tadi menguntit dan terus menawariku jasa taksinya menuju Tehran.

“80 ribu toman temanku yang baik, itulah harga standar yang berlaku” ucapnya dengan bahasa inggris yang cukup fasih.

Aku tahu harga pasaran taksi resmi dari bandara ke pusat kota Tehran tidak lebih dari 80 ribu toman, apalagi untuk taksi gelap seperti ini, pertimbanganku mestinya harganya dibawah itu.

“60 ribu toman dan ini tawaran terakhirku” ucapku tak kalah gertak, sang sopir pun mengganguk dengan enggan dan menyuruhku mengikuti dia mengambil taksi di parkiran bawah.

Aku agak kaget dengan kondisi mobil yang akan kutumpangi, lampu depan cuma menyala satu, pintu bagasi belakang hanya diikat dengan seutas tali, jok kursi yang bolong-bolong dan jangan tanya apakah mobil ini memiliki pendingin udara atau tidak. Apa mungkin ini ganjaranku karena sudah menawar dibawah harga pasaran. Aku hanya berdoa semoga mobil ini bisa membawaku ke Tehran dengan selamat, karena toh paling tidak sabuk pengaman masih berfungsi.

Kebanyakan taksi gelap di Iran adalah produk mobil dalam negeri yang telah cukup berumur dan umunya sudah tidak dalam kondisi terbaiknya.
Pengecualian untuk taksi resmi yang umumnya berwarna kuning dan kebanyakan merupakan mobil Eropa dengan kondisi cukup bagus.
Supir taksi di Iran ternyata termasuk tipe yang ugal-ugalan di jalan, ngebut dan sering menyerobot dengan kasar, mungkin karena tingkat kemacetan di Tehran yang cukup terasa.

Sepanjang perjalanan yang ternyata cukup jauh ini, sang sopir yang awalnya banyak diam menjadi lebih antusias setelah tahu aku datang dari Indonesia, karena dia awalnya menduga kalau aku adalah turis dari Jepang atau Korea. Sang sopir bercerita bawha dia pernah melihat sebuah program acara yang mengangkat tema tentang Bali di televisi setempat dan sangat terpukau dengan betapa indahnya dan hijaunya pulau dewata tersebut dan bermimpi suatu saat bisa berwisata dengan keluarganya ke Indonesia.

Percakapan pun bergulir ke topik yang lebih dalam ketika dia sekonyong-konyong bertanya bagaimana tanggapan orang-orang di Indonesia tentang Iran, seperti diketahui, Iran menganut paham Syi’ah yang agak berbeda dengan mayoritas Suni termasuk Indonesia. Pertanyaan yang sesungguhnya agak sulit kujawab dengan gamblang karena setahuku kebanyakan orang awam di Indonesia mempunyai kesan yang tidak simpatik terhadap penganut paham Syi’ah.

Pemimpin Spiritual di Iran mudah dikenali karena model pakaiannya yang khas, walaupun tidak semua orang berpakain seperti ini berarti seorang pemimpin, bisa jadi seorang guru/dosen, pegawai pemerintah atau perangkat agama
Wanita dengan Chador (jubah lebar berwarna hitam) sangat umum ditemui di Iran, karena negara mewajibkan semua wanita dewasa untuk menutup rambutnya

Tapi untuk menjaga perasaannya kujawab saja dengan bahasa formil bahwa bangsa Indonesia menganggap Iran jelas bukan sebagai musuh dan kita sama-sama berjuang untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Zionis Israel. Si sopir yang kemudian kutahu bernama Ali Reza tersebut kelihatan cukup puas dengan jawabanku itu dan mengangguk-angguk senang.

Ali Reza kemudian banyak memberi saran dan masukan tentang tempat-tempat wisata di Tehran, mana yang bagus, mana yang biasa-biasa saja, lengkap dengan standar harga taksi menuju tempat-tempat tersebut dan mewanti-wanti aku agar tidak tertipu. Dia dengan jujur mengakui bahwa ada beberapa rekan rekannya sesama supir taksi yang suka mengutip harga hingga tiga kali lipat harga normal kepada turis asing yang tidak bisa berbicara bahasa Parsi.

Aku makin bertambah respek dan merasa bahwa Ali Reza memang seorang supir taksi yang jujur sehingga aku agak merasa bersalah sudah menawar separuh harga. Padahal kalau dipikir-pikir 80 ribu toman itu hanya sekitar 200 ribu rupiah saja, harga yang cukup pantas untuk jarak yang hampir 60 kilometer, apalagi ditengah malam buta seperti sekarang.

Ali Reza juga dengan cakap membantuku mencarikan alamat hostel yang akan kutempati, yang ternyata agak sulit dicari karena menyatu dengan area pemukiman padat dan gedung-gedung perkantoran. Jadilah sang sopir baik hati ini dengan muka tetap tersenyum membantuku mengetuk beberapa pintu untuk bertanya alamat hostel yang kumaksud karena kebanyakan orang Iran hanya berbicara bahasa Parsi dan sangat sedikit yang bisa berbahasa Inggris.

ketika akhirnya kami pun berhasil menemukan alamat hostelku, dia masih menyempatkan memberi nomor telponnya dan berkata untuk menghubunginya kapan saja aku membutuhkan bantuan, entah untuk urusan antar jemput atau sekadar untuk bertanya-tanya tentang Iran, dia akan dengan senang hati membantu.

“Kau adalah tamuku, brother! aku berkewajiban untuk melayanimu sebaik-baiknya” ucapnya lugas.

Kalimat yang akhirnya memantapkan hatiku untuk membayar jasa taksinya sesuai harga awal permintaannya senilai 80 ribu toman, walaupun kami telah bersepakat di harga 60 ribu toman. Apalah artinya 20 ribu toman dibandingkan dengan sebuah keramahan dan keihlasan atas bantuan yang sudah ia berikan. Terlepas dari apakah ia benar-benar tulus atau hanya sekadar bermanis kata, itu bukan urusanku untuk menilai, aku hanya berusaha untuk mempercayai naluriku bahwa Ali Reza memang seorang yang baik.

Hari pertamaku di Iran dibuka dengan pengalaman dan kesan yang sangat baik terhadap Iran dan semoga bisa terus berlanjut di sisa perjalanan ini, walau pada kenyataanya sayangnya tidak sepenuhnya begitu….

Bersambung…

Summary
Kesan Pertama di Negeri para Mullah
Article Name
Kesan Pertama di Negeri para Mullah
Description
Aku tahu harga pasaran taksi resmi dari bandara ke pusat kota Tehran tidak lebih dari 80 ribu toman, apalagi untuk taksi gelap seperti ini, pertimbanganku mestinya harganya dibawah itu.
Author
Publisher Name
sulisbae.com
Publisher Logo

An introvert kinda guy, spent too much times on books, watching documentaries on Youtube and playing historical strategy games for long hours. Falling in love with solo traveling and experiencing different cultures first hand. Still learning to write properly and using cameras without auto mode.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *